Rest in Happines
Anna Nicole Smith
(1967-2007)
“In loving memory of our mockery icon
So innocent, eyes open wide”
Akhirnya ketemu juga pengukuran kuantitatif untuk kebahagiaan, membuat gue berkesimpulan masih banyak orang yang waras dan baik hati mau repot untuk hal ini.
Namanya A survey method for characterizing daily life experience: the day reconstruction method. Hasilnya dapat dilihat pada tabel di bawah. Mengenai akurasi dan cocok tidaknya dengan kondisi demografi, diserahkan pada masing-masing saja
Hasilnya masuk akal juga pada akhirnya, menurut gue.
Hubungan yang intim memberikan pengaruh yang terbesar dibanding beberapa item yang disandingkan. Sayangnya hanya bertahan 12 menit? Hahaha… lucu juga nih survey.
Bisa jadi ada hubungannnya dengan para responden yang membayangkan hubungan sex mereka rata rata dibawah seperempat jam.
Item bekerja -untuk hal ini gue setuju banget jika kerja dimasukkan sebagai unsur kebahagiaan-yang menempati posisi ke-15 memberikan efek yang berdurasi panjang, hampir 7 jam coy!
Jadi kalo lagi bete, ada baiknya tenggelamkan dalam kesibukan kerja daripada menenggelamkan Jakarta (hehehe… masih bete kebanjiran)
Shopping, sesuatu yang digemari daughter of eve, memang bisa memberi kebahagiaan, tapi cuman bertahan kurang dari setengah jam. So, Ladies, kalo belanja sana sini , tengok kanan kiri (I rhyme, damn good!) jangan lebih dari setengah jam, sisanya pasti ga fun lagi.
Fenomena yang lain (on the phone, eating, interaction w/ partners etc) silahkan di oprek sendiri apa yang bisa menggelitik pikiran lo
Sayangnya perilaku negatif tidak dicantumkan sebagai faktor yang memberi kebahagiaan.
Apa?? Nge-bully, balas dendam, menyiksa, mengejek memberi kebahagiaan?
Ehhmm, sepertinya iya, kan disitu ada memberi kepuasan dan kemudian kepuasan itu sendiri menghasilkan kebahagiaan.
Anyway, gue ga mau terjebak di item-putihnya jahat dan baik. Yang pasti RIP-nya Anna Nicole Smith membuat gue tidak bahagia.
Salah satu clown dunia kecantikan fisik telah tiada!

Sebagai lelaki tidak belok, pasti adalah tergoda kepada pabrikasi fisiknya (tapi ada yang bilang dadanya aseli). Apa sih yang tidak diplastikin ama dia, gue rasa anal bleaching pun sudah dilakonin dia *lol*
Terlepas dari kontroversinya sebagai janda milyuner salah satu raja minyak di US dan posenya yang mengimitasikan Marilyn Monroe (ironi, yang kemudian matinya Marilyn juga diimitasikan dia), Anna telah jujur untuk berlakon sebagai badut yang memuaskan hasrat lelaki meng-objek-kan wanita.
Sekali lagi, gue bukan pro wanita sebagai objek, hanya menilai kejujuran dia untuk itu. Analoginya dengan band Radja yang sadar atau tidak sadar bangga banget sudah menjadi badut dunia musik kita. Mungkin orang orang seperti Anna dan Radja ga mempan kali dengan hirarki Maslow bahwa manusia akan menuju ke arah aktualisasi diri sebagai supremasi hidupnya (where money’s no longer interested than self actualization)
Dan tempatnya Anna masih terhormat daripada Ayu Azhari dan adik adiknya yang masih denial dengan karakter yang dimainkan mereka (neng, ga ada bangkai yang ga bau)
Salah satu ucapan Anna yang membuat gue geli
"He wanted to make me happy. My wish was his command."
-Anna Nicole Smith on her late husband
-
kurang tacky apa lagi?
Kembali ke cerita Kebahagiaan, itukan menurut versi gue. Tentu gue bahagia selama dia ada di bumi, berhasil membuat senyum sinis merendahkan dan nafsu bersatu dalam satu paket (mungkin ini sebagai efek kapitalis, the bigger the better?).
Apakah dari sisi Anna sebagai manusia dia bahagia? Walahualam, biar dia ajalah yang berurusan dengan penciptanya. Ironi lagi, kata orang Life is begun at 40 but at 40 she just passed away
Akhirnya ucapan temen gue juga yang tepat untuk menemaninya berangkat
"Goodbye Anna Nicole Smith, Tackiness & Mockery don’t have a meaning without you..."
Ashes to ashes…
Dust to dust…
Recent Comments